Dunia Tak Siap Hadapi Badai AI Ini

Govind

TeknoLogiz – Senator Bernie Sanders melontarkan peringatan keras tentang gelombang revolusi kecerdasan buatan (AI) yang akan datang. Menurutnya, baik parlemen maupun masyarakat Amerika Serikat sama sekali tidak siap menghadapi kecepatan dan skala perubahan yang masif ini, mendesak tindakan kebijakan segera untuk "memperlambat laju" perkembangan AI yang kian pesat.

Berbicara di Universitas Stanford pada hari Jumat bersama Anggota Kongres Ro Khanna, Sanders tidak ragu menyebut momen ini sebagai "saat paling berbahaya dalam sejarah modern negara ini." Ia menegaskan, "Kongres dan rakyat Amerika sangat tidak siap menghadapi tsunami yang akan datang." Khanna, seorang Demokrat progresif dari Silicon Valley, turut menyuarakan kekhawatiran serupa, menggambarkan era ini sebagai "zaman keemasan baru" yang dikendalikan oleh miliarder teknologi yang merasa diri mereka adalah "penakluk heroik di era berbeda."

Dunia Tak Siap Hadapi Badai AI Ini
Gambar Istimewa : i.guim.co.uk

Meski Khanna dan Sanders enggan menyebutkan nama eksekutif teknologi yang mereka temui selama kunjungan di California, Khanna memastikan mereka berdialog dengan "pemimpin senior" dari "perusahaan teknologi paling terkemuka." Khanna menekankan pentingnya pertemuan ini agar para pemimpin teknologi memahami kekhawatiran jutaan pekerja Amerika yang diwakili oleh Senator Sanders.

Dalam pidatonya, Sanders kembali menyerukan moratorium pembangunan pusat data AI. Tujuannya jelas: "memperlambat revolusi ini dan melindungi para pekerja" sembari memberi waktu bagi pembuat kebijakan untuk beradaptasi. Berbeda dengan Sanders, Khanna tidak menginginkan moratorium. Ia justru mendorong upaya "mengendalikan" AI, mengusulkan model "Singapura" untuk pertumbuhan pusat data yang fokus pada energi terbarukan dan efisiensi air. Di hadapan audiens mahasiswa, Khanna memaparkan tujuh prinsip untuk mencegah "penguasaan oligarki" atas kekayaan yang dihasilkan inovasi AI.

"Kita tidak boleh bertanya apa yang bisa Amerika lakukan untuk Silicon Valley, melainkan apa yang harus Silicon Valley lakukan untuk Amerika," tegas Khanna, yang disebut-sebut mempertimbangkan pencalonan presiden 2028. Kunjungan Sanders ke California ini merupakan bagian dari tur "Lawan Oligarki" yang ia lakukan sebelumnya. Di Los Angeles, ia mengecam "keserakahan" kaum miliarder dan mendukung inisiatif pajak 5% satu kali bagi individu dengan kekayaan di atas 1 miliar dolar, sebuah usulan yang telah membuat beberapa pemimpin teknologi kaya raya mengancam untuk pindah.

Di Stanford, Sanders mengalihkan perhatian pada dampak AI terhadap tenaga kerja, kesejahteraan pribadi, dan interaksi sosial. Ia bahkan menyinggung sebuah restoran di Washington DC yang menawarkan promo Hari Valentine untuk manusia dan "teman AI" mereka, yang disambut tawa mahasiswa. Namun, Sanders mengingatkan, "Mungkin terdengar lucu, tapi kenyataannya banyak orang mulai bergantung pada AI untuk dukungan emosional mereka. Apa dampak jangka panjangnya? Apa dampak jangka panjang jika kita kehilangan pekerjaan sebagai bagian penting dari hidup kita? Apa yang akan kita lakukan dengan hidup kita?"

Sanders juga membacakan pernyataan dari para pemimpin industri yang memprediksi otomatisasi besar-besaran. Ia mengutip proyeksi bahwa AI dan robotika dapat menghilangkan puluhan juta pekerjaan dalam dekade mendatang, mulai dari pengemudi truk, pekerja restoran cepat saji, hingga berbagai posisi kerah putih.

Survei menunjukkan bahwa masyarakat Amerika sangat khawatir, sementara regulator federal dan negara bagian berdebat tentang cara menerapkan batasan pada teknologi yang berkembang pesat ini. Sebuah survei Pew tahun 2025 mengungkapkan sentimen publik sebagai berikut:

Opini Publik Mengenai AI (Survei Pew 2025) Persentase
AI akan mengurangi jumlah pekerjaan dalam 20 tahun ke depan 64%
AI akan berdampak sangat atau cukup positif bagi AS dalam 20 tahun ke depan 17%

Para CEO teknologi yang memimpin perlombaan AI berargumen bahwa AI akan mendorong produktivitas, inovasi, dan menciptakan jenis pekerjaan baru, seperti halnya kemajuan teknologi di masa lalu. Namun, para kritikus seperti Sanders, berpendapat bahwa kecepatan dan skala perubahan yang "belum pernah terjadi sebelumnya" ini berisiko memperkaya "multimiliarder" sembari memperdalam ketimpangan, serta membuat pembuat kebijakan dan publik tidak siap untuk memberikan respons yang tepat waktu.

Sanders mendesak rekan-rekannya di Washington dan masyarakat luas untuk memulai debat publik serius tentang masa depan pekerjaan, seiring dengan gangguan AI terhadap ekonomi, demokrasi, dan kehidupan emosional manusia. "AI dan robotika tidaklah baik atau buruk," ujarnya. "Pertanyaannya adalah: apakah segelintir miliarder yang akan diuntungkan, ataukah masyarakat umum?"

Also Read

Tags