TeknoLogiz News – Pasar mobil listrik bekas di Indonesia mengalami penurunan harga yang signifikan. Bahkan, mobil yang baru digunakan kurang dari setahun bisa mengalami penurunan harga yang drastis, mencapai 50% setelah dua tahun pemakaian.
Salah satu penyebab utama anjloknya harga mobil listrik bekas adalah baterai. Founder National Battery Research Institute, Evvy Kartini, menjelaskan bahwa baterai merupakan komponen termahal dalam mobil listrik, menyumbang 40-50% dari total harga kendaraan.

"Harga baterai setengah harga mobil, jenis LFP dan semua. Jadi ketika harga baterai turun pasti mobil listrik turun," ungkap Evvy seperti dikutip dari CNBC.
Sebagai contoh, BYD Seal Premium yang baru dijual seharga Rp 639 juta dan Seal Performance AWD Rp 750 juta, kini harganya turun sekitar Rp 200 jutaan di pasar mobil bekas setelah satu tahun peluncuran. Hyundai Ioniq 5 Signature Long Range yang awalnya dibanderol Rp 844 juta, kini ditawarkan antara Rp 465 juta hingga Rp 550 juta untuk keluaran dua tahun lalu. Chery J6 yang harganya sekitar Rp 505 jutaan, juga bisa didapatkan dengan harga Rp 450 jutaan di pasar mobil bekas.
Evvy menambahkan bahwa pembeli mobil listrik bekas akan memperhitungkan sisa masa pakai baterai. Karena baterai memiliki siklus hidup terbatas, misalnya 1000 cycle, maka setelah dipakai 500 cycle, sisanya hanya 500 cycle. Penggantian baterai juga membutuhkan biaya yang besar, sekitar setengah harga mobil, sehingga membuat harga mobil listrik bekas turun drastis.
Hal ini berbeda dengan mobil berbahan bakar bensin (ICE), di mana performa kendaraan tidak terlalu terpengaruh oleh usia baterai. Kekuatan kendaraan listrik terus menurun setelah pemakaian lama.
"Karena baterai punya lifetime, misal 1000 cycle, ketika dipakai 500 cycle berarti sisanya 500, itu nggak bisa digantikan, dalam sekian tahun harus diganti, jadi itu yang menyebabkan harga mobil listrik jatuh," pungkas Evvy.





