TeknoLogiz – Pekan ini Delhi menjadi sorotan dunia ketika para raksasa teknologi global berkumpul dalam sebuah KTT kecerdasan buatan atau AI. Acara penting ini dipimpin langsung oleh Perdana Menteri India Narendra Modi yang berambisi menempatkan negaranya sebagai pemimpin AI di kawasan Asia Selatan dan Afrika. Ribuan eksekutif teknologi pejabat pemerintah dan pakar keselamatan AI hadir untuk membahas masa depan teknologi yang mengubah dunia ini.
Nama-nama besar seperti Sundar Pichai dari Google Sam Altman dari OpenAI dan Dario Amodei dari Anthropic turut meramaikan pertemuan tersebut. Mantan Perdana Menteri Inggris Rishi Sunak dan mantan Kanselir George Osborne juga hadir mendorong adopsi AI yang lebih luas. Sunak diketahui memiliki posisi di Microsoft dan Anthropic sementara Osborne memimpin upaya OpenAI untuk memperluas jangkauan ChatGPT yang kini telah digunakan oleh lebih dari 800 juta orang.

Modi dalam pidatonya menegaskan visi India untuk memanfaatkan AI demi kemajuan yang berpusat pada manusia dengan slogan "Kesejahteraan untuk semua kebahagiaan untuk semua". Agenda utama KTT ini mencakup potensi AI dalam merevolusi sektor pertanian pasokan air dan kesehatan publik. Sejumlah menteri dari negara-negara Global South seperti Kenya Senegal Mauritius Togo Indonesia dan Mesir turut mengirimkan perwakilannya.
Namun di balik antusiasme Modi terhadap AI ada kekhawatiran serius yang disuarakan oleh para pegiat hak sipil. Mereka menyuarakan keprihatinan tentang potensi penggunaan AI oleh India untuk meningkatkan pengawasan negara melakukan diskriminasi terhadap minoritas dan bahkan memengaruhi hasil pemilihan umum.
KTT AI di Delhi ini juga menjadi ajang pertarungan ideologi. Beberapa pengamat menyebutnya sebagai perebutan antara "kolonialisme AI" yang didorong oleh perusahaan teknologi AS dan "tekno-Gandhisme" sebuah pendekatan yang mengedepankan penggunaan AI untuk keadilan sosial dan kesejahteraan masyarakat terpinggirkan. Berbeda dengan perusahaan AI AS yang berlomba-lomba untuk dominasi dan aplikasi komersial negara-negara Global South melihat nilai AI dari kemampuannya meningkatkan kualitas hidup di tengah tantangan berat.
Sekretaris Jenderal PBB António Guterres yang juga akan berbicara di Delhi menegaskan bahwa "sangat tidak dapat diterima jika AI hanya menjadi hak istimewa negara-negara maju atau hanya menjadi pembagian antara dua kekuatan super".
Isu keamanan AI juga menjadi topik hangat. Yoshua Bengio salah satu "bapak baptis" AI kembali menyuarakan kekhawatirannya tentang risiko sistem AI yang kuat dalam memicu serangan siber atau bioweapon. Nicolas Miaihle salah satu pendiri AI Safety Connect juga menyoroti bahwa KTT ini berlangsung di tengah bayang-bayang perang yang melibatkan AI di Ukraina dan Timur Tengah. Ia menekankan bahwa risiko eksistensial AI tidak akan hilang dan penting bagi para pemimpin dunia untuk memahami arah perkembangan AI serta segera mengambil tindakan.
Di sisi lain administrasi AS di bawah pemerintahan sebelumnya cenderung menolak untuk membatasi perusahaan AI dengan regulasi ketat. Hal ini terlihat dari tidak adanya perwakilan tingkat tinggi dari Gedung Putih di Delhi.
Google sendiri menunjukkan komitmen besar di India dengan fokus pada pendidikan. Model bahasa besar AI yang mampu berfungsi dalam berbagai bahasa di India menjadi keuntungan besar. Owen Larter kepala kebijakan AI di Google DeepMind menyatakan kegembiraannya melihat adopsi AI yang intens di sektor pendidikan India di mana sekitar 90% guru dan siswa telah menggunakan AI dalam pembelajaran mereka. Google juga telah menginvestasikan 15 miliar dolar AS bekerja sama dengan konglomerat Gautam Adani untuk membangun pusat data AI skala gigawatt di Visakhapatnam Andhra Pradesh yang dilengkapi dengan kabel bawah laut untuk konektivitas global.





