Promosi Karir Terancam Jika Tak Melek AI

Govind

TeknoLogiz – Sebuah gebrakan mengejutkan datang dari perusahaan konsultan global raksasa Accenture. Demi mendorong adopsi teknologi kecerdasan buatan AI di kalangan karyawannya perusahaan ini dikabarkan mulai mengaitkan penggunaan alat AI dengan peluang promosi jabatan. Langkah ini menandai era baru di mana penguasaan AI bukan lagi pilihan melainkan keharusan bagi kemajuan karir.

Menurut laporan yang beredar Accenture telah menginformasikan kepada para manajer senior dan direktur asosiasi bahwa untuk meraih posisi kepemimpinan mereka wajib menunjukkan "adopsi rutin" terhadap kecerdasan buatan. Tidak hanya itu perusahaan bahkan mulai mengumpulkan data log-in mingguan dari beberapa staf senior untuk memantau intensitas penggunaan alat AI internal mereka.

Promosi Karir Terancam Jika Tak Melek AI
Gambar Istimewa : i.guim.co.uk

Dorongan agresif Accenture terhadap AI bukanlah tanpa alasan. Sebelumnya perusahaan telah mengumumkan keberhasilan melatih 550.000 dari total 780.000 karyawannya dalam AI generatif sebuah peningkatan drastis dari hanya 30 orang pada tahun 2022. Komitmen ini diperkuat dengan investasi tahunan sebesar 1 miliar dolar AS untuk program pembelajaran dan pelatihan AI bagi seluruh karyawan. Salah satu alat yang menjadi fokus pemantauan adalah AI Refinery yang menurut CEO Julie Sweet dirancang untuk "menciptakan peluang bagi perusahaan untuk menata ulang proses dan operasional mereka".

Fenomena ini mencerminkan tren industri yang lebih luas di mana banyak perusahaan memanfaatkan AI untuk mempercepat tugas tertentu sehingga sumber daya manusia dapat dialihkan ke area yang lebih strategis. Accenture sendiri telah merasakan dampak positifnya dengan melaporkan hasil kuartal pertama yang melampaui ekspektasi didorong oleh tingginya permintaan layanan berbasis AI.

Langkah terbaru yang mengaitkan penggunaan AI dengan potensi promosi ini muncul beberapa bulan setelah perusahaan yang terdaftar di New York ini mulai menjuluki hampir 800.000 karyawannya sebagai "reinventors" atau "penemu kembali". Julukan ini bertujuan untuk memposisikan Accenture sebagai pemimpin dalam kecerdasan buatan meskipun sempat dikritik sebagai jargon korporat. Perubahan identitas ini merupakan bagian dari reorganisasi besar pada Juni tahun lalu ketika Accenture menggabungkan divisi strategi konsultasi kreatif teknologi dan operasional menjadi satu unit tunggal bernama "Reinvention Services".

Pada September lalu CEO Julie Sweet bahkan pernah menyatakan bahwa perusahaan akan "mengeluarkan" karyawan yang tidak mampu beradaptasi dengan penggunaan AI dalam pekerjaan mereka. Pernyataan ini menggarisbawahi urgensi bagi setiap individu untuk menguasai teknologi ini. Umumnya karyawan yang lebih tua dan senior di perusahaan jasa profesional besar cenderung lebih enggan mengintegrasikan alat AI ke dalam pekerjaan mereka sementara staf yang lebih muda dan junior lebih reseptif.

Accenture yang berkantor pusat di Dublin juga telah mengumumkan kemitraan strategis dengan OpenAI pemilik ChatGPT dan Anthropic pemilik chatbot Claude pada Desember lalu. Kolaborasi ini menunjukkan keseriusan Accenture dalam memanfaatkan dan mengkapitalisasi permintaan yang terus meningkat untuk layanan AI.

Also Read

Tags