TeknoLogiz – Beberapa waktu terakhir, narasi mengenai kecerdasan buatan atau AI yang akan membebaskan kita dari rutinitas kerja lima hari seminggu semakin santer terdengar. Media-media besar dunia ramai memberitakan potensi AI untuk menciptakan keseimbangan hidup dan kerja yang lebih baik, bahkan mengarah pada pekan kerja empat hari. Euforia ini tidak hanya datang dari jurnalis, tetapi juga dari para pemimpin bisnis dan inovator teknologi terkemuka.
Eric Yuan, CEO Zoom, dengan optimis menyatakan bahwa AI dapat meningkatkan kualitas hidup kita secara signifikan, sehingga tidak perlu lagi bekerja lima hari penuh. Ia bahkan memprediksi bahwa setiap perusahaan akan mendukung sistem kerja tiga atau empat hari seminggu. Senada dengan Yuan, Jamie Dimon, CEO JPMorgan Chase, melihat kemungkinan pekan kerja hanya tiga setengah hari berkat kemajuan teknologi. Bill Gates, salah satu pendiri Microsoft, bahkan berani membayangkan masa depan di mana kita hanya perlu bekerja dua hari seminggu. Elon Musk, dengan gaya khasnya yang ekstrem, melangkah lebih jauh dengan memprediksi bahwa dalam 10 hingga 20 tahun ke depan, pekerjaan akan menjadi pilihan semata, kemiskinan akan lenyap, dan semua orang akan menikmati pendapatan tinggi secara universal.

Namun, di balik janji-janji manis tentang utopia kerja ini, tersembunyi sebuah realitas yang jauh lebih kompleks dan mungkin kurang menyenangkan. Klaim bahwa AI akan secara otomatis menghasilkan lonjakan produktivitas besar yang menguntungkan semua pihak masih perlu dipertanyakan. Sebuah studi dari MIT tahun lalu mengungkap fakta mengejutkan: meskipun investasi besar mencapai 30-40 miliar dolar AS telah digelontorkan untuk GenAI, 95% organisasi justru belum merasakan pengembalian investasi sama sekali.
Lebih jauh lagi, sejarah menunjukkan bahwa peningkatan produktivitas pekerja tidak selalu berbanding lurus dengan kenaikan upah. Selama bertahun-tahun, produktivitas terus meningkat, namun upah rata-rata, setelah disesuaikan dengan inflasi, nyaris tidak bergerak. Ini adalah paradoks yang mengkhawatirkan. Jika AI benar-benar mengambil alih sebagian besar tugas, pekan kerja yang lebih singkat kemungkinan besar akan diiringi dengan gaji yang lebih kecil secara proporsional. Alih-alih mendapatkan waktu luang yang berkualitas, banyak pekerja justru terancam mengalami penurunan pendapatan atau terpaksa mencari pekerjaan tambahan demi mempertahankan standar hidup mereka saat ini.
Ramalan ekonom Inggris terkemuka, John Maynard Keynes, dalam esainya "Economic Possibilities for Our Grandchildren" tahun 1930, tampaknya akan meleset jauh. Keynes meramalkan bahwa pada tahun 2030, kemajuan teknologi akan sangat meningkatkan standar hidup di Eropa dan Amerika Serikat, sehingga orang tidak perlu lagi khawatir tentang uang. Ia bahkan membayangkan bahwa masalah terbesar kita adalah bagaimana mengisi waktu luang yang melimpah. Namun, lima tahun menjelang tahun "ajaib" Keynes, kita justru menyaksikan fenomena yang berkebalikan. Teknologi baru, termasuk AI, justru berkontribusi pada pelebaran jurang kesenjangan, menciptakan masyarakat dua tingkat: segelintir orang dengan kekayaan luar biasa dan mayoritas yang berjuang keras untuk bertahan hidup.
Ini membawa kita pada pertanyaan krusial: bagaimana keuntungan dari peningkatan produktivitas AI akan didistribusikan? Bayangkan sebuah perangkat canggih, sebut saja "iSegalanya", yang mampu memproduksi semua yang Anda inginkan hanya dengan perintah. Kedengarannya fantastis, sampai kita menyadari bahwa jika perangkat ini melakukan segalanya, siapa yang akan memiliki penghasilan untuk membelinya? Dilema ini, meskipun fiktif, menggambarkan inti masalah distribusi kekayaan yang sangat nyata.
Pada akhirnya, ini semua kembali pada masalah kekuatan tawar. Kecuali pekerja memiliki daya tawar yang cukup untuk menuntut bagian dari keuntungan produktivitas AI, laba akan terus mengalir ke lingkaran pemilik yang semakin kecil. Akibatnya, sebagian besar dari kita akan memiliki lebih sedikit uang untuk membeli produk dan layanan yang dihasilkan oleh AI itu sendiri. Dengan melemahnya kekuatan serikat pekerja – yang kini hanya mencakup sekitar 6% dari tenaga kerja sektor swasta dibandingkan sepertiga empat puluh tahun lalu – jalan lain harus ditemukan.
Mungkin solusi terletak pada ranah politik. Apakah masyarakat pekerja akan mendapatkan kekuatan politik untuk menuntut legislasi yang memastikan distribusi keuntungan AI secara lebih adil? Ini bisa berupa pajak kekayaan untuk membiayai layanan penting seperti perawatan anak, lansia, dan kesehatan. Atau, mungkinkah akan muncul partai politik baru yang secara khusus memperjuangkan hak-hak pekerja di era AI?
Untuk sementara, jangan mudah termakan oleh narasi bombastis tentang AI yang akan "membebaskan" waktu karyawan. Pertanyaan sebenarnya adalah apakah keuntungan produktivitas AI, jika memang terwujud, akan dibagikan kepada pekerja. Dan kenyataannya, para pengusaha tidak akan membagikan keuntungan tersebut kecuali mereka dipaksa untuk melakukannya.





